Sabtu, 24 September 2016

DRAMA KOREA : MAKAN

Hari ini saya mau sedikit share tentang drama korea, biar kekinian atuh yah :D

Jadi begini ya... saya sebenarnya bukan pecinta drama korea. Kenapa? karena saya selalu merasa malas nonton film dengan banyak episode, walaupun drama korea sebenarnya hanya sekitar 16-20 episode saja, tapi saya selalu merasa gak sabaran nontonnya, apalagi kalau sudah membosankan jalan ceritanya, langsung deh nonton episode akhir, biar cepat kelar. Beberapa bulan ke belakang ini kan sempat booming tuh drama korea yang judulnya Descendent Of The Sun (DOT).. Nah, ketika teman-teman di sekitar saya (tidak semua, tapi mayoritas) berbondong-bondong menonton dan terpesona dengan penampilan Kapten Song Jong Ki yang katanya lama-lama menggemaskan itu, malah ada yang nonton berkali-kali saking gak bisa move on dari film ini (saya salut pokoknya deh, kuat nonton sampai 20 episode dengan cerita yang sama berkali-kali), justru saya hanya sanggup nonton sampai episode 5 saja haha... keburu bosan dan malas melanjutkan.

Menonton film adalah salah satu kebiasaan saya ketika sudah merasa jenuh dengan aktivitas sehari-hari. Mengisi weekend dengan menonton di laptop sekali-kali gak apa-apa kali ya, buat hiburan dan penyegaran otak. Saya lebih sering menonton film action yang durasinya sekitar 1,5 sampai 2 jam. Langsung tamat dan dapat intinya. Tapi kadang sesekali saya juga sempatkan melirik drama korea hasil cucuk flashdisk copy dari teman. Kata teman rame, saya akan copy dan coba tonton. Kebiasaan saya sebelum menonton adalah membaca sinopsisnya. Kira-kira menarik akan saya tonton. Saya lebih suka drama korea yang membahas tentang kerajaan-kerajaan jaman dahulu.. dijamin saya tonton sampai beres walaupun gak sabaran juga pengen cepat beres ho ho.

Ada satu hal yang saya suka dari drama atau film korea, bukan pemainnya yang mulus-mulus (cantik-ganteng yang sangat giung), bukan kisah cintanya yang bikin baper, bukan pula karena tempat nya yang indah, tetapi adegan ketika MAKAN!! Yah, saya selalu terpesona memperhatikan mereka makan, kayak yang enak gitu, lahap dan sangat menikmati. Cara mereka menyeruput sup, mengambil nasi dengan sumpit, mengunyah dengan penuh semangat sambil bilang mmmmm no-mu ma-sit-da! (rasaya enak sekali !).... ah, daebak daebak daebak pokoknya ! daebaaaaaaak ! (maaf, lebay :D)

Saya termasuk orang yang sedikit makan dan nafsu makan nya rendah, jadi deh susah gemuknya (haha, gak penting dibahas). Tapi, kadang saya selalu berusaha menikmati makanan saya dengan meniru gaya di film korea, cara mereka memuji enaknya makanan, menyeruput sup, mengunyah dan melahap dengan penuh semangat. Alhamdulillah biasanya bisa makan agak banyakan dan lahap. Gak pake sumpit tapi yah, gak bisa :D

Tambahan deh. Berikut beberapa drama korea yang pernah saya tonton sampai tamat dan menurut saya ceritanya menarik dan bagus :
1. King 2 Heart (tentang pertikaian antara Korea Utara dan Korea Selatan)
2. Rooftop Prince (tentang raja dari Dinasti Joseon yang terdampar di masa depan)
3. The Moon that Embraces the Sun 
4. Mask
5. Three Days (tentang paspampres)
6. She was Pretty (Buat kamu yang gak pede dengan kemampuan dan keadaan diri, boleh lah yah ditonton hehe... banyak hikmah yang bisa diambil, bahwa kita itu special. Jangan terlalu termehek-mehek sama kisah cintanya tapi yah, jangan baper wkwk)

Pondok Mutiara
24 September 2016
Bersama kepulan nasi hangat, setelah menyelesaikan episode 16 She was Pretty ~ akhirnya, tamat juga :D

Minggu, 15 Mei 2016

Ilmu dan Iman

Ilmu dan Iman adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berbahagialah bagi orang-orang yang semakin bertambah ilmunya justru semakin bertambah keimanan-Nya kepada Sang Pencipta. Semakin berilmu seseorang, maka semakin tinggi derajat dan tentu akhlaknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ".... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (QS. Al-Mujadalah : 11).

Selanjutnya, Rasulullah Shallahu'alaihi wa Sallam bersabda: "Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat."

Ilmu  yang kita miliki tentunya harus dimanfaatkan untuk orang banyak. Ilmu yang dimanfaatkan akan menjadi amalan yang pahalanya tiada terputus walaupun kita sudah tiada di dunia. Rasulullah Shallahu'alaihi wa Sallam bersabda :"Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan doa anak yang sholeh."(HR. Muslim No. 1631).

Iman memberi cahaya pada jiwa, disebut juga pada moral, sedang ilmu pengetahuan memberi sinar pada mata. Iman dan Ilmu membuat orang jadi mantap, agung, walau tidak ada pangkat dan jabatan yang disandangnya, sebab cahaya itu datang dari dalam dirinya sendiri.

Pokok hidup utama adalah Iman dan pokok pengirimnya adalah Ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya orang yang berilmu saja tanpa disertai iman, maka ilmunya itu dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun bagi sesama manusia. Ilmu manusia tentang atom misalnya, alangkah penting ilmu itu kalau disertai iman, karena dia akan membawa faedah yang besar bagi seluruh manusia. Tetapi ilmu itupun dapat digunakan orang untuk memusnahkan sesama manusia, karena jiwanya yang tidak terkontrol oleh iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala

Belajar dari Negeri Sakura
Enam hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945). Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali bangsanya yang sudah porak poranda itu. Ia memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup.

Satu sumber menyebutkan jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat itu adalah sebanyak 45 ribu orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya mendatangi para guru tersebut dan memberi perintah juga arahan. Rakyat Jepang saat itu sangat menjunjung titah dari Kaisar. 

Mengapa pada saat itu Kaisar Jepang lebih mementingkan jumlah guru daripada jumlah perusahaan atau jumlah pabrik yang tersisa? Itu artinya, Kaisar Jepang lebih tahu mana yang lebih menjamin kehidupan rakyatnya. Dengan ilmu yang dimiliki para guru tersebut, lihatlah kondisi Jepang sekarang. Setelah pengebomam yang menyakitkan itu, kini Jepang menjadi negara maju dari berbagai sisi.

Namun tak cukup hanya dengan ilmu saja, hiasilah keilmuan dengan keimanan kepada yang Maha Esa Allah Subahanahu wa Ta'ala. Dengan demikian diri dan jiwa kita akan selalu dekat dan selalu dinaungi perlindungan  Allah SWT. 

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (Qs. al-‘Alaq: 1)

Wallahu'alam Bishowab 

*Dari Berbagai Sumber

Sabtu, 23 April 2016

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Hallo.... !!

Lama juga gak ngisi blog. Kebetulan ada tema yang akhir-akhir ini menarik saya.
Ini berawal dari Tes Psikometrik MMPI -2 dalam rangka memenuhi persyaratan administrasi pekerjaan, dimana di dalamnya ada beberapa pertanyaan pernyataan yang membuat saya jadi 'curious' (Wah, jangan-jangan...................... Taraaaa, hasilnya normal kok :D)

Dokumentasi Pribadi
Cuma... banyak sih yang membikin saya bertanya-tanya, mulai dari mengapa jumlah soal sebanyak 567, pertanyaan pernyataan yang membuat saya ingin tahu apa yah hubungannya sama kejiwaan?

Setelah searching and searching, berhubung saya bukan psikolog, khawatirnya keliru dan sok tahu... jadilah pengen nge-share artikel ini (copas dari berbagai sumber)


Obsesive Compulsive Disorder (OCD), merupakan sejenis gangguan kecemasan, yaitu penyakit yang berpotensi mengganggu serta memerangkap orang dalam siklus pikiran dan perilaku yang berulang. Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari tiga kali sebelum meninggalkan rumahnya.
Orang dengan OCD ini terganggu oleh stres, ketakutan atau bayangan yang berulang (obsesi) yang tidak dapat mereka kendalikan. Kecemasan/kegelisahan yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran tersebut mengarahkan mereka pada kebutuhan mendesak untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu (compulsion). Ritual kompulsif ini dilakukan dalam upaya untuk mencegah pikiran obsesif atau membuat pikiran tersebut hilang.
Meskipun ritual ini dapat mengurangi kecemasan untuk sementara, namun orang tersebut harus melakukan ritualnya lagi ketika pikiran obsesif datang kembali. Siklus OCD dapat menyita waktu yang sangat banyak dan secara signifikan mengganggu aktivitas normal. Penderita OCD mungkin menyadari bahwa pikiran tersebut adalah obsesi dan dorongan yang tidak masuk akal atau tidak realistis, tetapi mereka tidak mampu menghentikannya.

Apa Saja Gejala Obsessive Compulsive Disorder?
Gejala-gejala Obsessive Compulsive Disorder dapat bervariasi. Gejala obsesi yang umumnya ditemukan adalah:
  • Takut kotor atau terkontaminasi oleh kuman.
  • Takut mencelakai orang lain.
  • Takut membuat kesalahan.
  • Takut malu atau berperilaku sosial yang tidak dapat diterima masyarakat.
  • Takut berpikir jahat atau berdosa.
  • Perlu kerapian, seimbang atau ketepatan.
  • Keraguan yang berlebihan dan kebutuhan untuk selalu dipercayai.
Sedangkan gejala kompulsi meliputi:
  • Berulang kali mandi, siram atau mencuci tangan.
  • Menolak untuk berjabat tangan atau menyentuh pegangan pintu.
  • Berulang kali memeriksa hal-hal yang sama, seperti kunci atau kompor.
  • Terus berhitung, baik di dalam pikiran atau diucapkan dengan keras sambil melakukan tugas-tugas rutin.
  • Mengatur barang-barang dengan cara tertentu secara terus-menerus.
  • Mengkonsumsi makanan dalam urutan tertentu.
  • Terjebak pada kata-kata, gambar atau pikiran, yang biasanya mengganggu, sehingga dapat mengganggu waktu tidur.
  • Mengulangi kata-kata, kalimat atau doa tertentu.
  • Melakukan tugas yang sama berkali – kali.
  • Mengumpulkan atau menimbun barang tanpa nilai yang jelas/berarti.
Apa Penyebab Obsessive Compulsive Disorder?
Penyebab pasti dari OCD belum sepenuhnya dipahami, namun penelitian telah menunjukkan bahwa kombinasi faktor biologis dan lingkungan ikut terlibat.
  1. Faktor biologis: otak adalah struktur yang sangat kompleks. Otak berisi miliaran sel saraf yang disebut neuron dan harus berkomunikasi serta bekerja sama agar tubuh dapat berfungsi secara normal. Neuron berkomunikasi melalui sinyal listrik. Mediator khusus, yang disebut dengan neurotransmiter, membantu memindahkan pesan-pesan listrik dari neuron ke neuron. Penelitian telah menemukan hubungan antara rendahnya kadar neurotransmitter, yang disebut serotonin, dengan terjadinya OCD. Selain itu, ada bukti bahwa ketidakseimbangan serotonin dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anak. Hal ini berarti OCD dapat diwariskan. Daerah-daerah tertentu di otak dapat juga terpengaruh oleh ketidakseimbangan serotonin, yang memicu timbulnya OCD. Masalah ini tampaknya melibatkan jalur otak yang menghubungkan daerah otak yang berfungsi sebagai penilaian dan perencanaan, dengan daerah otak yang menerima pesan untuk gerakan tubuh. Studi juga telah menemukan hubungan antara infeksi oleh bakteri Streptococcus dengan OCD. Infeksi ini, jika berulang dan tidak diobati, dapat menyebabkan timbulnya OCD dan gangguan lainnya pada anak-anak.
  2. Faktor Lingkungan: terdapat faktor lingkungan yang dapat memicu OCD pada orang-orang yang memiliki kecenderungan OCD. Faktor lingkungan juga dapat memperburuk gejala dan meliputi:
    • Siksaan
    • Perubahan kondisi kehidupan
    • Penyakit
    • Kematian orang yang dicintai
    • Masalah atau perubahan yang terkait dengan pekerjaan dan sekolah
    • Masalah dalam hubungan percintaan
Apakah Obsessive Compulsive Disorder Sering Terjadi?
OCD menimpa sekitar 3,3 juta orang dewasa dan sekitar 1 juta anak-anak dan remaja di Amerika Serikat. Gangguan ini biasanya pertama kali muncul di masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa muda. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dan mempengaruhi semua orang dari semua ras dan latar belakang sosial ekonomi.

Bagaimana Obsessive Compulsive Disorder Didiagnosis?
Tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis OCD. Dokter mendasarkan diagnosa pada penilaian gejala pasien termasuk berapa banyak waktu seseorang dihabiskan untuk melakukan perilaku ritualnya.

Bagaimana OCD Diobati?
OCD tidak dapat sembuh, sehingga sangat penting untuk mendapatkan pengobatan. Pendekatan yang paling efektif untuk mengobati OCD ialah gabungan obat dengan terapi perilaku kognitif.
  • Terapi Perilaku Kognitif. Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutan mereka dan mengurangi kecemasan tanpa melakukan perilaku ritual (disebut terapi eksposure dan terapi pencegahan respon). Terapi ini juga berfokus pada mengurangi pikiran berlebihan atau pikiran yang sering terjadi pada orang dengan OCD.
  • Terapi Obat. Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), antidepresan seperti Paxil, Prozac, Zoloft. Jenis obat yang lama, misal antidepresan trisiklik seperti Anafranil, juga dapat digunakan.
Dalam kasus OCD yang parah dan pada orang yang tidak merespon terhadap terapi obat dan perilaku, maka dapat digunakan terapi electroconvulsive (ECT) atau psychosurgery untuk mengobati gangguan tersebut. Selama ECT, elektroda dipasangkan pada kepala pasien dan serangkaian kejutan listrik dikirim ke otak, yang akan menyebabkan kejang. Kejang ini menyebabkan pelepasan neurotransmiter atau senyawa serotonin di otak.

Bagaimana Harapan Untuk Orang Dengan Obsessive Compulsive Disorder?
Kebanyakan kasus OCD berhasil diobati dengan obat-obatan, terapi perilaku kognitif, atau kombinasi keduanya. Dengan pengobatan yang disiplin, kebanyakan orang dapat sembuh dari gejala dan kembali beraktivitas normal atau mendekati normal.

Apakah Obsessive Compulsive Disorder dapat Dicegah?
OCD tidak dapat dicegah. Namun, diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan seseorang karena menderita kondisi ini. 

Survey Membuktikan (Ala Jargon Kuis...)
Prevalensi sepanjang hidup gangguan obsesif-kompulsif berkisar 2,5 persen dan sedikit lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki (Karno & Golding, 1991; Karno dkk., 1988; Stein dkk., 1997). Usia onset gangguan ini tampaknya bimodal, yaitu terjadi sebelum usia sepuluh tahun atau pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa (Conceicao do Rosario-Campos dkk., 2001). Pada kasus usia dewasa, gangguan ini sering dialami setelah kejadian yang penuh stres, seperti kehamilan, melahirkan, konflik keluarga, atau kesulitan di pekerjaan (Kringlen, 1970). Gangguan obsesif-kompuksif juga menunjukkan komordibitas dengan gangguan anxietas lain, terutama dengan gangguan panik dan fobia (Austin dkk., 1990), dan dengan berbagai gangguan kepribadian (Baer dkk., 1990; Mavissikalian, Hammen, & Jones, 1990). Stern dan Cobb (1978) menemukan bahwa 78 persen dari sampel individu kompulsif memandang ritual mereka sebagai “cukup bodoh atau aneh” walaupun mereka tidak mampu menghentikannya.

Rene Descarte berkata : aku berfikir, maka aku ada !
Aku ada karena fikiranku. 


When the sun beginning to set
*Ruang Diskusi Lab. Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak 
  Fapet Unpad

Jumat, 22 November 2013

Lego Ergo Scio

Saya mendapati istilah ini ketika melewati gerbang kampus, terpampanglah "Lego Ergo Scio" pada sebuah baliho acara bedah buku, yang artinya saya baca maka saya tahu. Tidak berselang lama, langsung deh saya search di google (jurus andalan) tentang istilah itu. Selidik punya selidik ternyata berasal dari bahasa latin... (biar tahu, kan lumayan nambah kosakata bahasa latin, walaupun cuma itu doang) :D

Well... well... well... Berarti kalau mau banyak tahu, harus banyak baca dong. Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi kita Muhammad Shallahu'alaihi Wasallam adalah "Iqro"... Bacalah !

Mengapa harus baca? ada apa dengan baca?

Menurut Hodgson dalam Terigan (1979), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Sedangkan menurut Crawley dan Mountain dalam Rahim (2007), membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Waah definisinya bikin roaming ya? hehe maklum jaman sekarang orang lebih suka yang instant (jangan terlalu banyak makan mie instant lho, jaga kesehatan ya buat anak kost-kost an).

Baiklah kalau begitu menurut pendapat saya saja deh (ini sesuai pengalaman saya ya). Menurut saya, membaca adalah suatu proses untuk menangkap pesan, berfikir, berimajinasi dan bermain dengan perasaan. 

Mari jabar menjabarkan :
Membaca pesan. Yah, dengan membaca kita dapat mengetahui pesan yang ingin disampaikan penulis baik itu sebuah nasihat, pengalaman luar biasa, semangat hidup ataupun suatu pembelajaran. Jadilah kita berfikir, belajar dan menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu (Kan sudah belajar banyak dari banyak pengalaman orang dalam buku). 

Berfikir. Membaca menjadikan kita berfikir dan kemudian muncul lah pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita, timbulah masalah, timbulah keinginan untuk membaca lebih banyak, oh ternyata bla bla bla... bagaimana kalau diteliti ya? Yeay, akhirnya dapat judul skripsi atau tesis buat penelitan. Asyiik, pede nih ketemu calon dosen pembimbing. Prok prok prok....

Berimajinasi. Ini adalah point yang sangat saya garis bawahi. Percaya gak melalui membaca buku, saya bisa keliling dunia? If you want to around the world, you can do it by reading books. Eh itu bener lho, dengan membaca buku saya bisa keliling Eropa, India, Tibet, Mesir, Afganistan, Pakistan (Luar bisa sekali saya bisa membaca buku yang membahas tentang keadaan negara ini), Amerika, China, dan lain-lain. Ketika membaca saya merasa berada di dalam nya, serasa masuk dan hidup di dalamnya (in) Murah kan? No Money, No Passport, No Visa dan No Plane. Tapi kalo bisa sih, bisa nginjekin kaki langsung di sana, kalau begitu mari berdoa semoga bisa berangkat. 

Bermain dengan perasaan. Nah, kalau yang ini sesuai dengan objek (buku) yang dibaca. Baca komik biasa nya lucu ya, tapi ada juga yang serius, atau romantis ala-ala sailormon (kurang in untuk komik, jadi tidak bisa berkomentar banyak). Kalau baca novel tuh macam-macam biasanya, kalau itu novel komedi ya bikin kita terhibur dan tertawa, kalau itu novel cinta dan perjuangan, cinta tak direstui, cinta berkhianat, cinta antara si miskin dan si kaya (jadi inget novel Galaxy Kinanti, deh) dan bla bla bla bisa bikin kita berharu biru tuh, nangis deh serasa jadi peran utama hehe (yang galau biasanya lebih terbawa suasana, hanyut dalam aliran perasaannya), dan bisa saja atau kebetulan novel yang dibaca itu "ini ceritanya gue banget", makin lah termehek-mehek (#peace dua jari). Lalu, novel tentang sebuah perjalanan. Wiih, ini nih yang keren, kita bisa belajar banyak dari pengalaman dan lebih tahu tentang makna di balik sebuah perjalanan. Mampukah kita menemukan makna dalam sebuah perjalanan atau sekedar senang-senang saja? Open your heart, soften your mind, and hear the voice of nature :)

Nah, kalau baca buku pelajaran gimana? Jangan bilang ngantuk ya... 
Memang untuk yang satu ini memerlukan keseriusan, belajar nya harus dibarengi semangat dan hati yang tidak terbebani dijamin deh InsyaAllah jadi anak pintar dan cerdas (harapan Ibu Bapak di masa depan... Okkee !).

Dan dan ... tentu saja Al-Qur'an merupakan the main and the most important for us.. Bacalah, fahami (betapa luas ilmu di dalamnya), dan kemudian amalkan. InsyaAllah selamat dunia akhirat. Tapi bacaannya harus terus diperbaiki ya (Ikutan tahsin, yuk ^^)

Mungkin untuk sekarang baru itu yang bisa saya bagi. Sesuai apa yang saya baca, saya pahami dan saya alami. Gambatte !

Sari AsQolany
Mawar Pelangi - AsQo Room
20.25 WIB

Jumat, 04 Oktober 2013

Mengapa Belajar Tahsin?

The first question is - Apa itu tahsin? 

Menurut bahasa, tahsin berasal dari kata "hassana-yuhassinu-tahsiin", bermakna membaguskan. Kata ini semakna dengan istilah yang sudah populer di tengah masyarakat yaitu "tajwid", yang berasal dari kata "jawwada-yujawwidu-tajwiid". Maknanya sama dengan tahsin yaitu membaguskan atau memperbaiki yakni membaguskan atau memperbaiki bacaan Al-Quran agar terbebas dari kesalahan (lahn) dalam membaca yang dapat menjerumuskan pada perbuatan haram atau makruh yang tidak diperbolehkan. 
Sedangkan para ulama mendefinisikan tahsin :
"Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya beserta memberikan hak dan mustahaknya".
  
Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti sifat hams (keluarnya nafas saat mengucapkan huruf-huruf tertentu seperti pada huruf fa, sya, sa, ta) dan sebaliknya yaitu jahr.
Mustahaq huruf adalah sifat yang sewaktu-waktu menyertai huruf tertentu seperti sifat tafkhim (suara tebal) atau tarqiq (suara tipis) pada huruf ra' atau sifat idzhar, iqlab, ikhfa' pada nun sukun atau tanwin dan sebagainya.

The next question is - Mengapa kamu belajar tahsin?
Untuk menjawabnya, mari kita simak Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah : 121 

"Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya..."

Yeah, that the answer - Belajar semata-mata karena keimanan kepada Allah Subhanu Wata'ala dan Kepada Kitab Allah Subhanu Wata'ala. Masih ingat kan rukun iman yang ke-3?

Terdapat faedah yang besar dalam mempelajari tahsin tilawah diantaranya sebagai berikut :
1. Refleksi keimanan seorang muslim terhadap Al-Quran
2. Mengikuti jejak Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam yang telah mengajarkan Al-Quran
3. Mencapai kualitas yang terbaik dalam membaca Al-Quran
4. Terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam membaca Al-Quran
5. Mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan Al-Quran

Mari kita simak kembali Firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam Surat Al-Muzzammil : 4
"Dan bacalah Al-Quran dengan tartil".

Melalui ayat di atas, Allah Subhanahu Wata'ala memerintahkan orang yang beriman untuk membaca Al-Quran dengan tartil. Menyoroti makna tartil, Imam Al-Baidhawi mengatakan "baguskan bacaan Al-Quran dengan sebagus-bagusnya". Sementara yang lainnya mengatakan, membaca dengan tartil berarti membacanya dengan perlahan-lahan penuh dengan ketenangan dan perenungan, melatih lisan dalam pengucapan lafazh-lafazh serta mengulang-ulangnya, membacanya dengan konsisten dan berkesinambungan dengan memperhatikan kaidah seperti menipiskan yang tarqiq dan menebalkan yang tafkhim, memendekkan dan memanjangkan huruf yang seharusnya (Nihayatul Qaulil Mufid hal. 7).

And, the next question is - Tertarik belajar tahsin? 
Al-Quran adalah penyejuk kalbu. Akan semakin syahdu dan nikmat membacanya ketika kita senantiasa terus memperbaiki bacaan kita dan akan semakin indah ketika kita paham akan makna dari ayat-ayat Allah yang kita baca. Ayo, ikut tahsin biar tambah kece... :)

Just Share
Mawar Pelangi
AsQo's Room - 18.40 WIB

Rabu, 02 Oktober 2013

Debat or Usqut Laa Tatakallam

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Namun, yang menjadi permasalahan kadang perbedaan pendapat itu sendiri melahirkan perdebatan yang pada akhirnya kadang hanya menimbulkan pembenaran pendapat masing-masing debator. Diskusi dan bertukar pikiran memang diperlukan untuk mencari solusi dan  penyelesaian dari sebuah permasalahan, tapi ada attitude yang harus di perhatikan, jangan sampai pada prosesnya justru menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Jangan sampai terjadi kesibukan dalam pembenaran sendiri, emosi dan pada akhirnya lebih banyak menjatuhkan daripada mencari solusi.

Jika sudah seperti itu keadaannya, maka diam dan berkemas menghindari perdebatan adalah sebuah jalan terbaik. Sungguh sulit untuk mengendalikan kata-kata, apalagi ketika sedang marah. Oleh karena itu, usqut  laa tatakallam is better .

Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya. (HR Abu Daud).

Sampaikanlah sesuatu itu, jika memang perlu untuk disampaikan dengan cara yang benar dan di waktu yang tepat. Tinggalkan kata-kata yang tidak pantas dalam melakukan sebuah pembenaran. Namun, jika ternyata yang terjadi adalah debat kusir karena ketidak-menerimaan pihak lain, maka diam adalah lebih baik. Tahan amarah itu, tahan rasa ingin membenarkan itu - karena boleh jadi yang timbul ke permukaan justru sebuah perpecahan. Nurani pada akhirnya membenarkan, bahwa penyesalan itu datang ketika banyak berkata-kata - finally, menunjukkan betapa terlihat bodohnya kita.


Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya. (HR. Ibnu Hibban).

Amphi Theatre Gd. 3 Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran
10.12 Waktu Indonesia Barat